what makes you who you are
Pertemuan produksi dengan Caglar dan kru yang duduk di sekitar meja / Production meeting with Caglar and crew sitting around a table

arriving / tiba di jogja

We were thrilled to arrive back at Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) in Yogyakarta to bring what makes you who you are to life.
Kami sangat senang ketika tiba kembali di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) di Yogyakarta untuk menghadirkan apa yang menjadikan kamu jadi kamu.

arriving jogjatiba di jogja
Pertemuan produksi dengan Caglar dan kru yang duduk di sekitar meja / Production meeting with Caglar and crew sitting around a table
Pertemuan produksi pertama. Foto oleh Sito Adhi Anom/First production meeting. Photo by Sito Adhi Anom

We were thrilled to arrive back at Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) in Yogyakarta to bring what makes you who you are to life. After many months of planning, it was very exciting to be positioned at the beginning of a great adventure. We never could have gotten here without the vision and planning of Jeannie, PSBK’s director, and her team, along with the brilliant support and coordination of Iteq, our Jogja producer, and Chas, our London producer, not to mention the British Council Indonesia team. It was great to arrive and see the familiar faces of friends and previous collaborators and meet new ones. PSBK has had an amazing refurbishment and looks stunning, an inviting space for creative work.

Caglar had the first meeting with PSBK staff and the WMYWYA production team on Tuesday 8 January. The production team includes Jogja-based crew on camera, sound, an art director, and two editors. During the production meeting, Caglar asked the two camera people, Azwar and Yudi, to have a look around the PSBK site and send him photos of potentially interesting locations.

The plan is to spend two days auditioning actors for the project, and then jump into impro sessions next week to develop material for the video installations.

Another meeting was with the PSBK team, discussing marketing plans, including social media and outreach. One exciting development is that once the exhibition opens, PSBK will be organising a special visit for Deaf Arts community where Caglar will lead the group around the exhibition and they will have the opportunity to ask questions and interact with him, with the help of a Bisindo (Indonesian Sign Language) interpreter. We’re making all the materials in the exhibition Deaf-friendly with captioning throughout.

Throughout the week, Caglar has also been meeting with our Augmented Reality (AR) developer to test out AR markers and create the app with which the AR will be delivered. We were really excited to print our first marker and see the test videos pop up on our mobile phone screen (android only for now)!

Seorang pria mengangkat ponselnya untuk menangkap penanda AR - foto memperlihatkan tangan terbuka / A man holds up his mobile phone to frame the AR marker - a square photograph of open hands.
AR marker testing. Photo by Michael Achtman / Pengujian penanda AR. Foto oleh Michael Achtman

Ayun from Pamflet introduced us to Ibu Sinta from Pondok Pesantren Waria Al Fatah, a safe house for trans women and Islamic study centre. On our day off, we arranged a visit to their community in the Kota Gede section of Jogja. We drank tea and had a very interesting conversation with the women living there, and filmed them answering the question, what makes you who you are.

Pertemuan produksi dengan Caglar dan kru yang duduk di sekitar meja / Production meeting with Caglar and crew sitting around a table
Pertemuan produksi pertama. Foto oleh Sito Adhi Anom/First production meeting. Photo by Sito Adhi Anom

Kami sangat senang ketika tiba kembali di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK) di Yogyakarta untuk menghadirkan apa yang menjadikan kamu jadi kamu. Setelah perencanaan selama berbulan-bulan, kami pun bersemangat untuk memulai sebuah petualangan yang hebat. Kami tidak akan pernah bisa sampai di titik ini tanpa perencanaan dan visi dari Jeannie, direktur PSBK, dan timnya, bersama dengan dukungan dan koordinasi yang brilian dari Iteq, produser Jogja kami, dan Chas, produser London kami, dan juga tim British Council Indonesia . Senang rasanya ketika tiba dan melihat wajah akrab teman-teman dan kolaborator sebelumnya serta bertemu mereka yang baru pula. PSBK telah mengalami perbaikan luar biasa dan lebih terlihat memukau, menjadikannya suatu ruang yang mengundang kreativitas.

Caglar melakukan pertemuan pertama dengan staf PSBK dan tim produksi WMYWYA pada hari Selasa 8 Januari. Tim produksi terdiri dari kru yang berbasis di Jogja yakni kamera, suara, seorang direktur artistik, dan dua editor. Selama pertemuan dengan tim produksi, Caglar meminta dua juru kamera, Azwar dan Yudi, untuk melihat-lihat sekitar wilayah PSBK dan mengiriminya foto-foto lokasi yang menarik.

Rencana proyek tersebut adalah audisi selama dua hari untuk memilih aktor yang akan bergabung dalam proyek, lalu dilanjutkan ke sesi improvisasi di minggu berikutnya untuk mengembangkan materi instalasi video.

Diadakan pula pertemuan lain dengan tim PSBK yang membahas rencana pemasaran, termasuk media sosial dan penjangkauan penonton. Salah satu perkembangan yang menarik adalah begitu pameran dibuka, PSBK akan mengadakan kunjungan khusus untuk Deaf Arts Community di mana Caglar akan mengajak mereka berkeliling di sekitar pameran dan mereka akan memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan berinteraksi dengannya, dengan bantuan juru bahasa Bisindo (Bahasa Isyarat Bahasa Indonesia). Kami membuat semua karya di pameran ramah-tunarungu dengan dilengkapi transkrip.

Sepanjang minggu ini, Caglar juga telah bertemu dengan pengembang realitas tertambah/ Augmented Reality (AR) untuk menguji penanda AR dan membuat aplikasi yang akan menampilkan konten AR tersebut. Kami benar-benar bersemangat untuk mencetak penanda pertama kami dan melihat video muncul di layar ponsel kami (hanya Android untuk saat ini)!

Seorang pria mengangkat ponselnya untuk menangkap penanda AR - foto memperlihatkan tangan terbuka / A man holds up his mobile phone to frame the AR marker - a square photograph of open hands.
AR marker testing. Photo by Michael Achtman / Pengujian penanda AR. Foto oleh Michael Achtman

Ayun dari Pamflet memperkenalkan kami kepada Ibu Sinta dari Pondok Pesantren Waria Al Fatah, sebuah lokasi aman dan pusat studi Islam bagi transpuan. Pada hari libur kami, kami mengatur kunjungan ke komunitas mereka di Kecamatan Kota Gede, Yogyakarta. Kami minum teh sambil melangsungkan percakapan yang menarik dengan para wanita yang tinggal di sana, serta memfilmkan mereka saat menjawab pertanyaan, apa yang menjadikan kamu jadi kamu.